Follow by Email

FILM FIKSI ILMIAH

  • FILM KOLOSAL

Jumat, 29 Juli 2011

TERSEMBUNYI DALAM SUNYI

MALAM TERLALU GELAP UNTUK JIWA INI
SIANG TERLALU TERANG UNTUK RAGA INI
LANGIT TERLALU TINGGI UNTUK KU GAPAI
BUMI TERLALU LUAS UNTUK KU JELAJAHI
LAUT TERLALU DALAM UNTUK KUSELAMI

SUNYIKU DARI SUARA ITU
DIAMKU DARI PERGERAKAN ITU
JAUHKU DARI JARAK ITU
LEMAHKU DARI KEINGINAN ITU

TUHAN-KU TUNJUKKAN HIDAYAH-MU
DIRIKU TAK BERDAYA TANPA RAHMAT-MU
AKU MALU AKAN KETIDAKPEDULIANKU TERHADAP-MU
IZINKANKU MENGENAL DAN MENCINTAI-MU
AGAR TENANG DAN BAHAGIA DENGAN KEBERSMAAN-MU

Kamis, 26 Mei 2011

FILSAFAT ILMU

pengertian filsafat
poejawijatna (1974:11) sejenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran semata
hasbullah bakry (1971:11) sejenis pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setalah mencapai pengetahuan itu
plato , pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran sejati
al-farabi, pengetahuan tentang alam wujud bagaimana hakikatnya yang sebenarnya
pythagoras, cinta terhadap kebijaksanaan /kebenaran
kesuliatan membuat definisi tentang filsafat juga berarti sulitnya memahami apaitu filsafat
• pengertian filsafat berkembang dari masa kemasa
• pengertian filsafat yang berbeda antara tokoh satu dengan tokoh lainnya
• dipakai untuk menunju bermaca-macam objek yang berbeda
apa yang mendorong timbulnya filsafat?
beerling (1966:8) orang yunani mula-mula berfilsafat di barat timbul karena ketakjuban lantas mengiinginkan mengetahuinya dalam bentuk pertanyaan, hal itu seperti yang diungkapkan plato
patrick (mulder, 1966-44-5) manakala keheranan menjadi serius dan penyelidikan menjadi sistematis, maka menjadi filsafat
sartre (beerling, 1966:8) kesadaran pada manusia adalah bertanya yang sebenar-benarnya pada bertnya itulah manusia berada dalam kesadarnnya yang sebenar-benarnya. pertanyaan menyebabkan pikiran bekerja sehingga menimbulkan filsafat. jaaadi ingin tahu itulah pada dasarnya penyebab timbulnya fisafat.
macam-macam pengetahuan manusia
pengetahuan sains: obyek empiris, paradigma sains, metode sains, kebenarannya ditentukan logis dan bukti empiris
pengetahuan filsafat: obyek abstrak tetapi logis, paradigma logis, metode rasio, ukuran kebenarannya logis dan tidak logis
pengetahuan mistik: obyek abstrak supralogis atau metarasional, paradigma mistis, metode latihan atau riyadlah, ukuran kebenaran ditentukan oleh rasa
cara mempelajari filsafat
metode sistematis: pertama mempelajari teori pengetahuan yang terdiri atas beberapa cabang filsafat kemudian teori hakikat setelah itu teori atau filsafat nilai metode ini terpusat pada isi filsafat bukan pada tokoh ataupun pada periode.
metode historis: dengan mengikuti sejarahnya yaitu sejarah pemikiran dengan membicarakan tokoh demi tokoh menurut kedudukannya dalam sejarah metode ini mempelajari filsafat secara kronologis.
metode kritis: dengan memahami isi ajaran, kemudian mengajukan kritiknya bisa menggunakan pendapatnya sendiri ataupun menggunakan pendapat filosof lain. metode mempelajari filsafat secara intensif dan memdalam dengan mengajukan kritik.
obyek penelitian fisafat
obyek materia; yaitu segala yang ada dan mungkin ada obyek materia filsafat lebih luas daripada obyek materia sains
obyek forma; ialah penyelidikan yang mendalam yaitu ingin tahu tentang obyek yang tidak hanya empiris atau diriset saja tapi dipikirkan secara logis
sistematika filsafat
teori pengetahuan pada dasarnya membicarakan cara memperoleh pengetahuan. dalam teori ini membicarakan epistemologi yaitu apa pengetahuan itu sesungguhnya tentang sumber, cara memperolehnya dan juga hakikatnya. kemudian empirisme membicarakan bagaimana manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalaman inderawinya. selanjutnya tentang rasionalisme membicarakan bagaimana manusia memperoleh pengetahuan melalui kegiatan akal menangkap obyek tertentu. yang lainnya ialah positivisme membicarakan bagaimana manusia memperoleh pengetahuan dengan inderawinya juga menggunakan eksperimen dan ukuran tertentu. selanjutnya intuisionisme membicarakan bagaimana manusia memperoleh pengetahuan intuisi yaitu mengkap obyek secara langsung tanpa melalui pemikiran.
teori hakikat membahas semua obyek dan hasilnya ialah pengetahuan filsafat
teori nilai atau aksiologi membicarakan guna dari pengetahuan yang dipelajari dari segi keindahan (estetika) dan segi akhlaq (etika)

Rabu, 27 April 2011

ILMU PENGETAHUAN


PEMBAGIAN PENGETAHUAN
Saat ini pembagian pengetahuan yang dianggap baku boleh dikatakan tidak ada yang memuaskan dan diterima semua pihak. Pembagian yang lazim dipakai dalam dunia keilmuan di Barat terbagi menjadi dua saja, sains (pengetahuan ilmiah) dan humaniora. Termasuk ke dalam sains adalah ilmu-ilmu alam (natural sciences) dan ilmu-ilmu sosial (social sciences), dengan cabang-cabangnya masing-masing. Termasuk ke dalam humaniora adalah segala pengetahuan selain itu, misalnya filsafat, agama, seni, bahasa, dan sejarah.
Penempatan beberapa jenis pengetahuan ke dalam kelompok besar humaniora sebenarnya menyisakan banyak kerancuan karena besarnya perbedaan di antara pengetahuan-pengetahuan itu, baik dari segi ontologi, epistemologi, maupun aksiologi. Kesamaannya barangkali terletak pada perbedaannya, atau barangkali sekadar pada fakta bahwa pengetahuan-pengetahuan humaniora itu tidak dapat digolongkan sebagai sains. Humaniora itu sendiri, pengindonesiaan yang tidak persis dari kata Inggris humanities, berarti (segala pengetahuan yang) berkaitan dengan atau perihal kemanusiaan. Tetapi kalau demikian, maka ilmu-ilmu sosial pun layak dimasukkan ke dalam humaniora karena sama-sama berkaitan dengan kemanusiaan.
Perlu diketahui bahwa akhir-akhir ini kajian epistemologi di Barat cenderung menolak kategorisasi pengetahuan (terutama dalam humaniora dan ilmu sosial) yang ketat. Pemahaman kita akan suatu permasalahan tidak cukup mengandalkan analisis satu ilmu saja. Oleh karena itu muncullah gagasan pendekatan interdisiplin atau multidisplin dalam memahami suatu permasalahan. Bidang-bidang kajian yang ada di perguruan tinggi-perguruan tinggi Barat tidak lagi hanya berdasarkan jenis-jenis keilmuan tradisional, tetapi pada satu tema yang didekati dari gabungan berbagai disiplin. Misalnya program studi Timur Tengah, studi Asia Tenggara, studi-studi keislaman (Islamic studies), studi budaya (cultural studies), dll.
Tema-tema yang dahulu menjadi monopoli satu ilmu pun kini harus didekati dari berbagai macam disiplin agar diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif. Wilayah-wilayah geografis tertentu, misalnya Jawa, suku Papua, pedalaman Kalimantan, atau Maroko dan Indian, yang dahulu dimonopoli ilmu antropologi, kini harus dipahami dengan menggunakan berbagai macam disiplin (sosiologi, psikologi, semiotik, bahkan filsafat).
Pendekatan interdisiplin ini pun kini menguat dalam kajian-kajian keislaman, termasuk dalam fikih. Untuk menentukan status hukum terutama dalam permasalahan kontemporer, pemakaian ilmu fikih murni tidak lagi memadai. Apalagi jika fikih dimengerti sebagai fikih warisan zaman mazhab-mazhab. Ilmu-ilmu modern saat ini menuntut untuk lebih banyak dilibatkan dalam penentuan hukum suatu masalah. Sekadar contoh, untuk menentukan hukum pembuatan bayi tabung, diperlukan pemahaman akan biologi dan kedokteran. Untuk menghukumi soal berbisnis di bursa saham, ilmu ekonomi harus dipahami. Dll.
TIGA ASPEK PENGETAHUAN
Ada tiga aspek yang membedakan satu pengetahuan dengan pengetahuan lainnya, yakni ontologi, epistemologi, dan aksiologi.
Ontologi
Ontologi adalah pembahasan tentang hakekat pengetahuan. Ontologi membahas pertanyaan-pertanyaan semacam ini: Objek apa yang ditelaah pengetahuan? Adakah objek tersebut? Bagaimana wujud hakikinya? Dapatkah objek tersebut diketahui oleh manusia, dan bagaimana caranya?
Epistemologi
Epistemologi adalah pembahasan mengenai metode yang digunakan untuk mendapatkan pengetahuan. Epistemologi membahas pertanyaan-pertanyaan seperti: bagaimana proses yang memungkinkan diperolehnya suatu pengetahuan? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Lalu benar itu sendiri apa? Kriterianya apa saja?
Aksiologi
Aksiologi adalah pembahasan mengenai nilai moral pengetahuan. Aksiologi menjawab pertanyaan-pertanyaan model begini: untuk apa pengetahuan itu digunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan pengetahuan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara metode pengetahuan dengan norma-norma moral/profesional?
Perbedaan suatu pengetahuan dengan pengetahuan lain tidak mesti dicirikan oleh perbedaan dalam ketiga aspek itu sekaligus. Bisa jadi objek dari dua pengetahuan sama, tetapi metode dan penggunaannya berbeda. Filsafat dan agama kerap bersinggungan dalam hal objek (sama-sama membahas hakekat alam, baik-buruk, benar-salah, dsb), tetapi metode keduanya jelas beda. Sementara perbedaan antar sains terutama terletak pada objeknya, sedangkan metodenya sama.
SUMBER PENGETAHUAN
Indera
Indera digunakan untuk berhubungan dengan dunia fisik atau lingkungan di sekitar kita. Indera ada bermacam-macam; yang paling pokok ada lima (panca indera), yakni indera penglihatan (mata) yang memungkinkan kita mengetahui warna, bentuk, dan ukuran suatu benda; indera pendengaran (telinga) yang membuat kita membedakan macam-macam suara; indera penciuman (hidung) untuk membedakan bermacam bau-bauan; indera perasa (lidah) yang membuat kita bisa membedakan makanan enak dan tidak enak; dan indera peraba (kulit) yang memungkinkan kita mengetahui suhu lingkungan dan kontur suatu benda.
Pengetahuan lewat indera disebut juga pengalaman, sifatnya empiris dan terukur. Kecenderungan yang berlebih kepada alat indera sebagai sumber pengetahuan yang utama, atau bahkan satu-satunya sumber pengetahuan, menghasilkan aliran yang disebut empirisisme, dengan pelopornya John Locke (1632-1714) dan David Hume dari Inggris. Mengenai kesahihan pengetahuan jenis ini, seorang empirisis sejati akan mengatakan indera adalah satu-satunya sumber pengetahuan yang dapat dipercaya, dan pengetahuan inderawi adalah satu-satunya pengetahuan yang benar.
Tetapi mengandalkan pengetahuan semata-mata kepada indera jelas tidak mencukupi. Dalam banyak kasus, penangkapan indera seringkali tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Misalnya pensil yang dimasukkan ke dalam air terlihat bengkok, padahal sebelumnya lurus. Benda yang jauh terlihat lebih kecil, padahal ukuran sebenarnya lebih besar. Bunyi yang terlalu lemah atau terlalu keras tidak bisa kita dengar. Belum lagi kalau alat indera kita bermasalah, sedang sakit atau sudah rusak, maka kian sulitlah kita mengandalkan indera untuk mendapatkan pengetahuan yang benar.
Akal
Akal atau rasio merupakan fungsi dari organ yang secara fisik bertempat di dalam kepala, yakni otak. Akal mampu menambal kekurangan yang ada pada indera. Akallah yang bisa memastikan bahwa pensil dalam air itu tetap lurus, dan bentuk bulan tetap bulat walaupun tampaknya sabit. Keunggulan akal yang paling utama adalah kemampuannya menangkap esensi atau hakikat dari sesuatu, tanpa terikat pada fakta-fakta khusus. Akal bisa mengetahui hakekat umum dari kucing, tanpa harus mengaitkannya dengan kucing tertentu yang ada di rumah tetangganya, kucing hitam, kucing garong, atau kucing-kucingan.
Akal mengetahui sesuatu tidak secara langsung, melainkan lewat kategori-kategori atau ide yang inheren dalam akal dan diyakini bersifat bawaan. Ketika kita memikirkan sesuatu, penangkapan akal atas sesuatu itu selalu sudah dibingkai oleh kategori. Kategori-kategori itu antara lain substansi, kuantitas, kualitas, relasi, waktu, tempat, dan keadaan.
Pengetahuan yang diperoleh dengan akal bersifat rasional, logis, atau masuk akal. Pengutamaan akal di atas sumber-sumber pengetahuan lainnya, atau keyakinan bahwa akal adalah satu-satunya sumber pengetahuan yang benar, disebut aliran rasionalisme, dengan pelopornya Rene Descartes (1596-1650) dari Prancis. Seorang rasionalis umumnya mencela pengetahuan yang diperoleh lewat indera sebagai semu, palsu, dan menipu.
Hati atau Intuisi
Organ fisik yang berkaitan dengan fungsi hati atau intuisi tidak diketahui dengan pasti; ada yang menyebut jantung, ada juga yang menyebut otak bagian kanan. Pada praktiknya, intuisi muncul berupa pengetahuan yang tiba-tiba saja hadir dalam kesadaran, tanpa melalui proses penalaran yang jelas, non-analitis, dan tidak selalu logis. Intuisi bisa muncul kapan saja tanpa kita rencanakan, baik saat santai maupun tegang, ketika diam maupun bergerak. Kadang ia datang saat kita tengah jalan-jalan di trotoar, saat kita sedang mandi, bangun tidur, saat main catur, atau saat kita menikmati pemandangan alam.
Intuisi disebut juga ilham atau inspirasi. Meskipun pengetahuan intuisi hadir begitu saja secara tiba-tiba, namun tampaknya ia tidak jatuh ke sembarang orang, melainkan hanya kepada orang yang sebelumnya sudah berpikir keras mengenai suatu masalah. Ketika seseorang sudah memaksimalkan daya pikirnya dan mengalami kemacetan, lalu ia mengistirahatkan pikirannya dengan tidur atau bersantai, pada saat itulah intuisi berkemungkinan muncul. Oleh karena itu intuisi sering disebut supra-rasional atau suatu kemampuan yang berada di atas rasio, dan hanya berfungsi jika rasio sudah digunakan secara maksimal namun menemui jalan buntu.
Hati bekerja pada wilayah yang tidak bisa dijangkau oleh akal, yakni pengalaman emosional dan spiritual. Kelemahan akal ialah terpagari oleh kategori-kategori sehingga hal ini, menurut Immanuel Kant (1724-1804), membuat akal tidak pernah bisa sampai pada pengetahuan langsung tentang sesuatu sebagaimana adanya (das ding an sich) atau noumena. Akal hanya bisa menangkap yang tampak dari benda itu (fenoumena), sementara hati bisa mengalami sesuatu secara langsung tanpa terhalang oleh apapun, tanpa ada jarak antara subjek dan objek.
Kecenderungan akal untuk selalu melakukan generalisasi (meng-umumkan) dan spatialisasi (meruang-ruangkan) membuatnya tidak akan mengerti keunikan-keunikan dari kejadian sehari-hari. Hati dapat memahami pengalaman-pengalaman khusus, misalnya pengalaman eksistensial, yakni pengalaman riil manusia seperti yang dirasakan langsung, bukan lewat konsepsi akal. Akal tidak bisa mengetahui rasa cinta, hatilah yang merasakannya. Bagi akal, satu jam di rutan salemba dan satu jam di pantai carita adalah sama, tapi bagi orang yang mengalaminya bisa sangat berbeda. Hati juga bisa merasakan pengalaman religius, berhubungan dengan Tuhan atau makhluk-makhluk gaib lainnya, dan juga pengalaman menyatu dengan alam.
Pengutamaan hati sebagai sumber pengetahuan yang paling bisa dipercaya dibanding sumber lainnya disebut intuisionisme. Mayoritas filosof Muslim memercayai kelebihan hati atas akal. Puncaknya adalah Suhrawardi al-Maqtul (1153-1192) yang mengembangkan mazhab isyraqi (iluminasionisme), dan diteruskan oleh Mulla Shadra (w.1631). Di Barat, intuisionisme dikembangkan oleh Henry Bergson.
Selain itu, ada sumber pengetahuan lain yang disebut wahyu. Wahyu adalah pemberitahuan langsung dari Tuhan kepada manusia dan mewujudkan dirinya dalam kitab suci agama. Namun sebagian pemikir Muslim ada yang menyamakan wahyu dengan intuisi, dalam pengertian wahyu sebagai jenis intuisi pada tingkat yang paling tinggi, dan hanya nabi yang bisa memerolehnya.
Dalam tradisi filsafat Barat, pertentangan keras terjadi antara aliran empirisisme dan rasionalisme. Hingga awal abad ke-20, empirisisme masih memegang kendali dengan kuatnya kecenderungan positivisme di kalangan ilmuwan Barat. Sedangkan dalam tradisi filsafat Islam, pertentangan kuat terjadi antara aliran rasionalisme dan intuisionisme (iluminasionisme, ‘irfani), dengan kemenangan pada aliran yang kedua. Dalam kisah perjalanan Nabi Khidir a.s. dan Musa a.s., penerimaan Musa atas tindakan-tindakan Khidir yang mulanya ia pertanyakan dianggap sebagai kemenangan intuisionisme. Penilaian positif umumnya para filosof Muslim atas intuisi ini kemungkinan besar dimaksudkan untuk memberikan status ontologis yang kuat pada wahyu, sebagai sumber pengetahuan yang lebih sahih daripada rasio.
LOGIKA
Logika adalah cara berpikir atau penalaran menuju kesimpulan yang benar. Aristoteles (384-322 SM) adalah pembangun logika yang pertama. Logika Aristoteles ini, menurut Immanuel Kant, 21 abad kemudian, tidak mengalami perubahan sedikit pun, baik penambahan maupun pengurangan.
Aristoteles memerkenalkan dua bentuk logika yang sekarang kita kenal dengan istilah deduksi dan induksi. Logika deduksi, dikenal juga dengan nama silogisme, adalah menarik kesimpulan dari pernyataan umum atas hal yang khusus. Contoh terkenal dari silogisme adalah:
- Semua manusia akan mati (pernyataan umum, premis mayor)
- Isnur manusia (pernyataan antara, premis minor)
- Isnur akan mati (kesimpulan, konklusi)
Logika induksi adalah kebalikan dari deduksi, yaitu menarik kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang bersifat khusus menuju pernyataan umum. Contoh:
- Isnur adalah manusia, dan ia mati (pernyataan khusus)
- Muhammad, Asep, dll adalah manusia, dan semuanya mati (pernyataan antara)
- Semua manusia akan mati (kesimpulan)
TEORI-TEORI KEBENARAN
Korespondensi
Sebuah pernyataan dikatakan benar bila sesuai dengan fakta atau kenyataan. Contoh pernyataan “bentuk air selalu sesuai dengan ruang yang ditempatinya”, adalah benar karena kenyataannya demikian. “Kota Jakarta ada di pulau Jawa” adalah benar karena sesuai dengan fakta (bisa dilihat di peta). Korespondensi memakai logika induksi.
Koherensi
Sebuah pernyataan dikatakan benar bila konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Contoh pernyataan “Asep akan mati” sesuai (koheren) dengan pernyataan sebelumnya bahwa “semua manusia akan mati” dan “Asep adalah manusia”. Terlihat di sini, logika yang dipakai dalam koherensi adalah logika deduksi.
Pragmatik
Sebuah pernyataan dikatakan benar jika berguna (fungsional) dalam situasi praktis. Kebenaran pragmatik dapat menjadi titik pertemuan antara koherensi dan korespondensi. Jika ada dua teori keilmuan yang sudah memenuhi kriteria dua teori kebenaran di atas, maka yang diambil adalah teori yang lebih mudah dipraktikkan. Agama dan seni bisa cocok jika diukur dengan teori kebenaran ini. Agama, dengan satu pernyataannya misalnya “Tuhan ada”, adalah benar secara pragmatik (adanya Tuhan berguna untuk menopang nilai-nilai hidup manusia dan menjadikannya teratur), lepas dari apakah Tuhan ada itu sesuai dengan fakta atau tidak, konsisten dengan pernyataan sebelumnya atau tidak.
***
Perceraian sains dan filsafat
Kita telah melihat dua permasalahan besar sains di penghujung abad 20 ini. Pertama, rapuhnya bangunan ide tentang materi itu sendiri. Dan kedua, keterbatasan atau, meminjam istilah kosmolog Indonesia Karlina Leksono, ketercakrawalaan metoda saintifik yang empirik dan induktif tersebut. ketercakrawalaan ini hendak didongkrak oleh para reformis metoda saintifik seperti Popper, Kuhn dan Feyerbend, walaupun tidak menghasilkan kesimpulan yang pasti. Kedua permasalahan ini menunjukkan bahwa materialisme sains dan metoda saintifik tidak mampu mengukuhkan keabsahan dirinya sendiri. Khususnya, metoda saintifik tidak berhasil mengantarkan para saintis mencapai misi utama sains: pencerahan pikiran manusia mengenai Alam Semesta.
Selanjutnya kita akan melihat permasalahan sains dari sudut pandang yang lain, yang tak kalah pentingnya.
Sejarah pengetahuan manusia menunjukkan bahwa terdapat dua sumber utama bagi pengembangan pengetahuan manusia: (1) pengetahuan dan niscaya rasional dan (2) pengetahuan empirik melalui pengamatan inderawi. Pengetahuan niscaya rasional merupakan pengetahuan yang kebenarannya telah jelas dengan sendirinya, sehingga tidak memerlukan bukti apa pun. Misalnya, prinsip non-kontradiksi. Yaitu bahwa pembenaran sesuatu dan pembantahan sesuatu tersebut tidak mungkin terjadi sekaligus. Sebagai ilustrasi, kalau seorang penguasa berwatak korup dan tiran, tidak mungkin ia peduli terhadap keadilan sosial. Sebab, tiran dan adil adalah dua hal yang berlawanan. Prinsip rasional lain misalnya adalah prinsip sebab-akibat dan prinsip bahwa sebagian itu lebih kecil dari keseluruhan. Pengetahuan niscaya rasional inilah yang merupakan tumpuan dari bangunan filsafat. Sedangkan, pengetahuan empirik diperoleh melalui data pengamatan inderawi. Teori-teori dalam sains bertumpu pada pengetahuan jenis ini. Baik sains maupun filsafat keduanya merupakan 'alat-alat' manusia untuk melihat Alam Semesta, fenomena sosial dan dirinya sendiri. Perbedaan antara sains dan filsafat terletak pada sumber-sumber pokok pengetahuan yang dijadikan tumpuan mereka. Sains bertumpu pada hasil pengamatan eksperimental, sementara filsafat bersandar pada prinsip-prinsip niscaya rasional yang kebenarannya tidak bergantung pada pengamatan inderawi manusia. karena itu, keduanya bersifat saling melengkapi dan sesungguhnya tidak perlu dipertentangkan. Sains dan filsafat bahkan pernah menjalin hubungan yang serasi di era Yunani Kuno (abad 5 SM sampai sekitar abad 5 M) dan di era Islam (sekitar 750 M sampai 1100 M). namun hubungan ini mulai retak ketika di abad 17 M sains menafikan (atau menolak mentah-mentah) filsafat secara total.
Penafian (penolakan mentah-mentah) terhadap filsafat diawali sekitar tiga abad yang lalu ketika para perintis empirisme seperti John Locke (1632-1704), Berkeley (168-1753) dan David Hume (1711-1776) memproklamasikan hak monopoli pengalaman inderawi dalam membangun pengetahuan manusia. penafian ini kemudian dipertajam belakangan oleh positivisme, yang ditokohi oleh Alfred Ayer (1910 - ). Ayer menegaskan bahwa sebuah pernyataan itu bisa bermakna, hanya jika ia dapat dibenarkan atau disalahkan melalui eksperimental inderawi. Empirisme ini membangun landasan epistemologis bagi paham materialisme. Di sisi lain, Fisika Newton memberikan landasan hukum empirik yang mekanistik bagi materialisme. Dengan empirisme dan fisika materialistik Newton maka tegaklah fondasi materialisme. Dan dengan kukuhnya materialisme ini, resmilah perceraian antara sains dan filsafat.
Perceraian antara sains dan filsafat merupakan karakter utama dari peradaban Barat semenjak zaman Renaisans di abad 17. Sejak perceraian itu sains mengambil alih posisi filsafat dan berperan sebagai penguasa tunggal dalam pengembangan pengetahuan manusia, baik tentang fenomena fisika, sosial maupun tentang diri manusia itu sendiri. Hal inilah yang bisa berdampak bencana besar bagi pemikiran manusia itu sendiri. Sebab, dengan dikesampingkannya filsafat dan sumber pengetahuan rasional, perkembangan pengetahuan itu sendiri menjadi sangat terbatasi. Sains, yang salah satu misi utamanya adalah mencerahkan manusia dengan cahaya pengetahuan tentang Alam Semesta, menjadi berkurang atau bahkan kehilangan daya pencerahannya. Perceraian sains dan filsafat juga berdampak sekularisasi, yakni pemisahan antara sains dan agama. Sebab, bangunan agama, sebagai sumber pengetahuan dan ajaran yang universal, tidak bertumpu pada metoda saintifik. Karena itu sains dan agama tidak mungkin bertemu, selama perceraian antara sains dengan filsafat masih terjadi. Selain itu semua, ketika sains memegang hak monopoli dalam pengetahuan, ia menjadi bersifat tertutup, tidak transparan dan otoriter. Dalam situasi demikian, kekeliruan atau penyimpangan yang dilakukan oleh sains tersebut tidak bisa terkoreksi.
Memasuki abad 21 dengan dialog Barat-Timur
Di zaman Yunani Kuno, para pemikira ketika itu menyakini betul kekuatan pencerah dari sains. Mereka memberi penghargaan yang tinggi terhadap sains karena kemampuannya dalam menjelaskan tentang realitas. Sains, yang di masa itu diberi nama filsafat alam, merupakan sumber penting bagi pengetahuan dan kebijaksanaan manusia. filsafat alam dan filsafat tidak hidup terpisah. Ketika itu, para ekonomi dari sains tidak terlalu mendapat perhatian. Di zaman Islam, sejarah menunjukkan adanya penghargaan yang tinggi terhadap sains sebagai bagian dari pengetahuan relijius mereka. Sains, sebagaimana juga seni dan ilmu-ilmu sosial, memperoleh posisi yang tinggi dalam kehidupan masyarakat ketika itu. Sains dipelajari secara terpadu dan harmonis dengan filsafat dan agama. Bahkan agama itulah yang menjadi sumber inspirasi upaya-upaya saintifik ketika itu.
Melihat itu semua, jelas bahwa sains itu memiliki nilai yang luhur dan senantiasa memiliki peran yang penting di berbagai peradaban manusia. Maka kurang tepatlah kalau kita mengesampingkan atau meninggalkan sains dengan segala buahnya. Juga keliru kalau kita merendahkan sains sehingga hanya bernilai ekonomi. Kita perlu optimis untuk bisa mengembalikan sains pada tempatnya yang tinggi dan luhur: sebagai pencerah manusia akan realitas Alam Semesta.
Namun, berdasarkan kelemahan-kelemahan sains yang telah diungkapkan oleh para saintis berkompeten itu sendiri, terdapat beberapa hal yang penting untuk diperhatikan.
1. Pertama, kita perlu memberikan tempat yang seluas-luasnya pada sumber-sumber pengetahuan lain seperti filsafat rasional dan agama. Sejarah menunjukkan bahwa filsafat dan agama memainkan peran yang sentral dalam membangun pengetahuan manusia tentang realitas alam dan dirinya sendiri. Feyerabend telah mengisyaratkan perlunya keterbukaan demikian. Isyarat ini tampaknya perlu ditanggapi secara serius dan lebih meluas di berbagai kalangan intelektual.
2. Tuduhan bahwa agama itu hanya berisi kumpulan doktrin irasional dan mitos, dan bahwa filsafat itu tidak memiliki bangunan pemikiran yang bertumpu pada realitas perlu ditinjau kembali. Selama ini, sering kali para pendukung sains empirik mengesampingkan peran filsafat dan agama berdasarkan tuduhan-tuduhan terburu-buru seperti itu. Namun, mereka kurang memperhatikan pernyataan-pernyataan dari para tokoh yang kompeten di filsafat dan agama. sikap pra duga demikian perlu ditinjau kembali, agar rasa saling mempercayai bisa tumbuh.
3. Di masa depan, yang penting bukannya siapa yang paling sah atau paling layak untuk berperan. Melainkan, kita perlu mengakui dan memberi peran pada masing-masing sumber pengetahuan ini pada tempatnya, sesuai dengan kelebihan, keabsahan dan kompetensinya. Sikap mutually exclusive dan keinginan memonopoli dunia pengetahuan perlu dibuang jauh-jauh. Sebagai gantinya, sikap saling mempercayai, menghargai dan menghormati perlu ditumbuh-kembangkan. Berdasarkan sikap ini kemudia dilaksanakan dialog-dialog antara sumber-sumber pengetahuan yang ada. Sains yang empirik dan induktif berada di Barat, sementara filsafat rasional yang deduktif, dan agama, hidup di Timur. Dengan dialog seperti inilah kita bisa memasuki lembaran sejarah masa depan dengan penuh optimisme, semangat dan harapan.

HUBUNGAN ANTARA IMAN, ISLAM DAN IHSAN

PEMBAHASAN

A.     Pengertian Islam
1)      Pengertian Islam
Kata Islam berasal dari bahasa Arab yang mempunyai bermacam-macam arti diantaranya:
1.  Salam artinya Selamat, aman sentosa, sejahtera. Yakni aturan hidup yang dapat menyelamatkan manusia didunia dan akhirat.
2.  Aslama artinya menyerah atau masuk Islam. Yakni mengajarkan penyerahan diri kepada Alloh.
3.   Silmun artinya keselamatan atau perdamaian.
4.   Salamun artinya tangga atau kendaraan
Menurut istilah Islam adalah agama Alloh yang diwahyukan kepada rasul-rasul-Nya sejak nabi Adam AS hingga nabi terakhir Muhammad SAW. Agama islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia baik keyakinan Ibadah, social, hukum politik, ekonomi, dan lain sebagainya yang menjadi pedoman hidup bagi seluruh umat manusia agar tercapai kshidupan yang  diridhoi Alloh SWT dan kebahagiaan hidup didunia dan akhirat.
Islam sebagai agama Samawi terakhir memiliki hubungan erat dengan yang sebelumnya berupa:
·   Merupakan agama universal (berlaku untuk segenap umat manusia sepanjang masa diseluruh dunia
·   Dibawakan oleh nabi Muhammad SAW merupakan penyempurna agama Alloh yang diwahyukan kepada rosul sebelumnya
·      Merupakan pelurus dan pengoreksi terhadap perubahan atau penyimpangan yang terjadi pada agama-agama sebelumnya.



2)      Kebenaran agama Islam
Islam adalah agama yang paling diridhoi disisi Alloh dan sebagai agama yang benar ajaranya, dikuatkan dengan alasan dan bukti sebagai berikut:
1.      Jelas asal usulnya yaitu sebagai agama wahyu yang terakhir.
2.      Dibawakan oleh nabi terakhir Muhammad SAW
3.      Diterangkan dalam kitab sucinya yaitu Al-Quran
4.      Ajaranya tidak bertentangan dengan fitrah manusia
5.      Mengatur seluruh aspek kehidupan manusia dan dapat diamalkan secara praktis oleh pemeluknya
   Sebagai agama samawi Islam memiliki sumber ajaran yaitu Al-Quran, Hadist, Ijma’ dan Qiyas. 
3)      Aspek-aspek ajaran Islam
Secara garis besar, aspek ajaran Islam terdiri atas 3 hal yaitu:
1.      Aqidah merupakan fondasi agama Islam yang sifat ajaranya pasti, mutlak kebenaranya, terperinci dan monoteistis. Inti ajaranya adalah mengEsakan Alloh
2.      Syariah Secara bahasa berarti “jalan yang harus dilalui” sedangkan menurut istilah berarti “ketentuan hukun Alloh yang mengatur hubungan manusia drngan Alloh, manusia dengan manusia, manusia dengan flora dan fauna serta alam sekitarnya. Syariah dibagi menjadi beberapa bidang yaitu:
a.       Ibadah adalah hubungan manusia dengan Alloh. Ibadah dibagi menjadi 2 macam yaitu Mahmudah dan Ghoiru Mahmudah.
b.      Muamalah yaitu aturan tentang hubungan manusia dengan manusia dalam rangka memenuhi kepentingan hidupnya.
3.      Akhlaq menurut bahasa berarti “perbuatan spontan” sedangkan menurut istilah adalah aturan tentang perilaku lahir dan batin yang dapat membedakan antara yang terpuji dan tercela. Akhlak yang benar menurut islam adalah yang dilandasi iman yang benar. Secara garis besar akhlaq islam mencakup manusia kepada Alloh, diri sendiri, sesame manusia, maupun terhadap flora dan fauna serta alam.
B.     Pengertian Iman
Pengertian Iman adalah membenarkan dengan hati, diikrarkan dengan lisan dan dilakukan dengan perbuatan. Iman secara bahasa berasal dari kata Aaman-Yu’minu-Iimaanan artinya meyakini atau mempercayai. Pembahasan pokok aqidah Islam berkisar pada aqidah yang terumuskan dalam rukun Iman yang ada enam yaitu:
1.      Iman kepada Allah Yaitu mempercayai bahwa adalah dzat yang maha esa beriman kepada alloh adalah membenarkan dengan yakin akan eksistensi Alloh dan keesaannya baik dalam perbuatannya pnciptaan alam seluruhnya maupun dalam pnerimaan ibadah segenap hambanya
·        Bukti keesaan alloh
Keesaan Alloh atau tauhid merupakan konsep refolusioner yang merupakan inti ajaran islam. Didalamnya terkandung pengertian bahwa hanya ada satu tuhan penguasa alam semesta. Bukti keesaan Alloh dengan cara mudah dimengerti adalah kalau tuhan lebih dari satu, keteraturan dan ketundukan alam semesta tidak akan terwujud sehingga hal ini mungkin terjadi apabila hanya ada satu tuhan yang mengatur dan mengendalikannya.
·        Hukum beriman kepada Alloh
Alloh dengan jelas memerintahkan agar manusia hanya menyembah Alloh dan jangan sekali kali menyekutukannya dengan sesuatu yang lain. Perintah itu berarti wajib hukumnya pecaya kepada yang telah menciptakan alam semesta yaitu Alloh.
·        Akibat bagi orang yang tidak beriman kepada Alloh
ü      Tidak dapat menerima kebenaraan
ü      Selalu dalam keaadan bimbang dan ragu
ü      Tidak boleh di angkat menjadi pemimpin bagi kaum yang beriman hanya akan memperoleh kemenangan sementara
ü      Menjadi musuh alloh akan mendapat siksaan neraka
·        Alloh mempunyai sifat-sifat diantaranya yaitu hidup, tidak berpemulaan, kekal, maha kuasa, maha tahu, berkemauan bebas, berbeda dengan makhluk-Nya,  maha melihat dan mendengar.
·        Hikmah beriman kepada Alloh
ü      Kemerdekaan jiwa dari kekuasan orang lain
ü      Dapat menimbulkan keberanian untuk terus maju dalam membela kebenaran
ü      Menimbulkan keyakinan yang kuat
ü      Mendapatkan kehidupan yang baik, adil dan makmur akan diprcepat oleh alloh   
2.      Iman kepada malaikat-Nya adalah mempercayai bahwa Alloh mempunyai mahluk yang ghoib bernama malaikat yang tidak pernah durhaka pada-Nya, senantiasa melaksanakan tugasnya dengan cermat dan sebak-baiknya. Ada sepuluh malaikat yang wajib di ketahui oleh umat islam :
1.      Jibril tugasnya menyampaikan wahyu
2.      Mikail tugasnya menyelengarakan rizki mahluk
3.      Isrofil tugasnya meniup sangkakala dan menjaga alam
4.      Izroil tugasnya mengurus pencabutan roh
5.      Ridwan tugasnya menjaga surga
6.      Malik menjaga  neraka
7.      Roqib mencatat amal baik manusia
8.      Atid mencatat amal buruk manusia
9.      Mungkar dan 10. Nakir mengajukan pertanyaan pada mayat di dalam kubur.

3.      Iman kepada Kitab-kitab-Nya adalah mempercayai bahwa Alloh mempunyai kitab-kitab yang di turunkan kepada rosulnya sebagai pedoman hidup bagi umatnya. Kitab Alloh dan kalamulloh artinya perintah atau ketentuan Alloh. Setiap manusia berkewajiban mengimani semua kitab Alloh sebagimana yang tercantum dalam Al-quran surat al-Baqoroh ayat 85. Adapun kitab-kitab yang wajib diimani dan tercatat dalam Al-quran ialah :
1.      Kitab Taurot di turunkan kepada nabi  nusa as. Qs al Baqoroh ayat 53
2.      Kitab Zabur  di turunkan kepada nabi daud as. Qs al Israa ayat 55
3.      Kitab Injil diturunkan kepada nabi isa as. Qs al Maidah ayat 46
4.      Kitab Al-qur’an diturunkan kepada nabi Muhammad saw. Qs Thaha ayat 113.
Keistimewaan Al-quran dari kitab-kitab lainnya:
§       Merupakan penyempurnaan kitab alloh sebelemnya yang berisi bimbingan dan petunjuk bagi manusia untuk memperoleh husnul khotimah dengan menghindari berlaku durhaka kepada alloh.
§       Masa berlakunya alquran tidak terbatas.
§       Keaslian isinya terpelihara
§       Ajarannya sempurna dan mudah di mengerti
4.      Iman kepada Rosul-rosul-Nya adalah meyakini bahwa alloh mengutus rosul–rosul untuk menyampaikan perintah-perintah-Nya pada umat manusia. Rosul adalah manusia biasa yang di  pilih oleh Alloh dengan diberi wahyu untuk disampaikan kepada umatnya dan dijadikan sebagai pedoman agar memperoleh kebahagiaan didunia dan akherat. Wahyu dari segi bahasa dapat bararti isyarat, ilham atau perundingan yang bersifat rahasia. Sedangkan wahyu menurut istilah adalah nama bagi sesuatu yang dididatangkan dengan cara cepat dari Alloh kedalam dada para nabi dan rasulnya. Terus rasul  juga bertugas memberi bimbingan dan contoh teladan yang sebaik-baiknya bagi umatnya. Para rosul diutus alloh sejalan dengan tahap perkembangan hidup umat manusia yaitu, pertama masa kanak-kanak. Para rosul diutus kepada umat tertentu untuk membawa ajaran tauhid, ahlak dan ibadah langsung kepada Alloh. Kedua, masa remaja. Sejarah umat manusia ketika para rosul diutus dalam rangka melangsungkan ajaran tauhid, akhlak dan ibadah langsung kepada Alloh.  Ketiga, masa dewasa. Sejarah umat manusia ditandai dengan kekuatan akal. Komunikasi antar umat mulai dirasakan kompleks, karena berbagai macam faktor pertukaran kebutuhan hidup.
5.      Iman kepada hari akhir adalah mempercayai atau meyakini akan adanya hari dimana Alloh akan mengakhiri semua kehidupan di alam semesta. Iman terhadap adanya hari akhir merupakan kewajiban  bagi setiap muslim, karena termasuk salah satu rukun iman. Apabila seseorang mengimani akan adanya Alloh dia dengan sungguh-sungguh mempelajari dan selalu  mengingat-Nya. Begitupula seseorang yang mengimani akan adanya hari akhir. Untuk  menuju kepada keyakinan yang penuh akan adanya hari akhir diperlukan adanya pemahaman tentang:
a.       Pengertian Iman kepada hari  akhir artinya percaya bahwa  ada kehidupan lain yang akan di alami oleh setiap manusia setelah dia meninggal. Orang yang tahu benar dari mana asal dan kemana akhirnya ia akan mengarahkan hidupnya agar benar- benar sampai pada tujuan terakhir itu dan juga akan berusaha dengan  sekuat-kuatnya agar segala sesuatu yang mengarah pada tujuannya dilakukan dengan sebaik- baiknya. Tanpa keyakinan adanya hari akhir yang akan mengantarkan kepada tujuan akhir itu, orang tidak akan mempunyai arah dalam hidupnya.
b.      Proses terjadinya hari akhir
v     Peristiwa kiamat yaitu pada sat bumi di goncangkan sangat dahsyatnya hal ini berakibat bermacam-macam terhadap orang yang mengalaminya diantaranya: para wanita yang menyusui menjadi lupa terhadap anak yang di susuinya, para wanita yang sedang hamil mengalami keguguran, dan manusia terlihat seperti mabuk.
v     Bangkit dari kubur dan di kumpulkan di padang mahsyar
v     Hisab atau pertanggung jawaban
v     Melewati shirot
v     Surga dan neraka
c.       Kedudukan hari akhir dalam kehidupan muslim
v     Merupakan jawaban terhadap pendapat yang menyatakan bahwa mati dan hidup itu terjadi sendiri
v     Menyebutkan mati terlebih dahulu daripada hidup, agar mati banyak mendapat perahatian manusia, karena mati merupakan pintu gerbang baagi hidup yang abadi
v     Hidup didunia tidak ada artinya, karena bukan hidup yang sesungguhnya melainkan hanya merupakan jembatan dan jalan  bagi hidup yang sempurna diakhirat
v     Segala amal perbuatan manusia didunia baik atau buruk belum dapat dinilai yang sesungguhnya namun amal perbuatan itu akan dapat dinilai dengan sesungguhnya diakhirat nanti.
d.      Hikmah beriman pada hari akhir
v        Taqwa  orang yang taqwa mempunyai sifat-sifat: mengimani rukun iman yang enam,  selalu mengingat alloh, senantiasa menegakan solat dan giat melaksanakan ibadahnya, dermawan dan suka menolong, kalau berjanji senantiasa di tepati, senantiasa berlaku benar dan jujur, berjiwa pemberani.
v        Memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.
e.       Keadaan kehidupan di surga dan neraka. Disebutkan oleh para ulama bahwa hukum wajib, sunnah, haram, makruh, dan mubah adalah alat untuk mengukur sejauh mana seseorang layak untuk memasuki surga atau neraka. Keadaan orang di surga penuh kenikmatan yang tiada tara, bahkan minum-minuman yang pada waktu di dunia di larang di perbolehkan.  Adapun tentang pedihnnya azab Alloh di berikan bagi mereka yang ingkar terhadap perintah-perintah Alloh. karena itu, bagi mereka yang tahu tentang kualitas amalnya akan dapat memperkirakan apakah ia mengalami azab Alloh atau tidak.            
f.         Hikmah adanya surga dan neraka adalah pada hakekatnya untuk memancing semangat manusia agar berlomba-lomba menuju keridoan Alloh dan selalu waspada tentang makna semua yang dilakukan.
  1. Iman kepada Takdir Alloh.
Artinya mempercayai bahwa dalam penciptaan alam semesta termasuk Manusia Alloh telah menciptakan kepastian dan ketentuan-Nya. Terhadap makhluk selain manusia ketentuan yang diberlakukan Alloh atasnya pada dasarnya hanyalah sunnatulloh atau hukum alam saja.


a.       Hubungan ikhtiar dengan Qadha dan Qadar
Beriman kepada taqdir itu akan memberikan pelajaran kepada kita bahwa segala sesuatu yang terjadi dialam semesta ini berjalan sesuai dengan kebijaksanaan yang telah digariskan oleh dzat yang maha Tinggi yaitu Alloh. Perlu diketahui bahwa manusia tidak dapat mengetahui taqdirnya secara pasti, karena itu hanya tertulis di Lauhul Mahfudz. Maka dengan begitu terbuka kesempatan bagi manusia untuk menjadi kreatif dan dinamis dalam berikhtiar. Bahkan Alloh memberikan kepada manusia kesempatan untuk berusaha merubah nasib (taqdir) yang melekat pada dirinya.
b.      Hikmah beriman kepada Qadha dan Qadar
v     Mendorong untuk giat dan semangat bekerja
v     Menumbuhkan rasa percaya diri dan optimis
v     Dapat terhindar dari rasa putus asa
v     Menghilangkan kesombongan
C.     Pengertian Ihsan
Ihsan berasal dari kata Ahsana-Yuhsinu-Ihsaanan yang artinya”berbuat baik”. Sedangkan pengertian Ihsan menurut istilah adalah menyembah Alloh seakan-akan melihat-Nya jika tidak bias demikian maka sesungguhnya Alloh maha Melihat. Maka Ihsan adalah ajaran tentang penghayatan diri sebagai yang sedang menghadap Alloh dan berada di kehadiratan-Nya ketika beribadah. Ihsan adalah pendidikan atu latihan untuk mencapai dalam aarti sesungguhnya. Karena seperti yang dikatakan Ibnu Taimiyah diaatas, Ihsan menjadi puncak tertinggi keagamaan manusia.
Ihsan dianalogkan sebagai atap bangunan Islam (rukun Iman adalah pondasi dan rujun Islam adalah bangunanya). Ihsan berfungsi sebagai pelindung bagi bangunan keIslaman seseorang. Jika seseorang berbuat Ihsan, maka amal-amal islam lainnya akan terpelihara dan tahan lama sesuai dengan fungsinya sebagai atap bangunan.

Ihsan mempunyai landasan yaitu:
1.      Landasan Qauli
“sesungguhnya Alloh telah mewajibkan untuk berbuat Ihsan terhadap segala sesuatu” (HR. Muslim). Tuntutan untuk berbuat Ihsan dalam Islam yaitu secara maksimal dan optimal.
2.      Landasan Kauny
Dengan melihat fenomena dalam kehidupan ini, secara sunnatulloh setiap orang suka akan berbuat yang Ihsan.
Alasan berbuat Ihsan:
a.       Adanya monitoring Alloh (muraqabatulloh)
b.      Adanya kebaikan Alloh (Ihsanulloh)
                  Dengan adanya muraqaabatulloh dan Ihsanulloh maka sudah selayaknya kita berihsanuniyat (berniat yang baik). Karena akan mengarahkan kita kepada:
a.       Ikhlasunniyat (niat yang ikhlas)
b.      Itqanul ‘amal (amal yang rapi)
c.       Jaudatul adaa’ (penyelesaian yang baik)
Keuntungan seseorang jika beramal yang Ihsan antara lain:
a.       Dicintai oleh Alloh
b.      Mendapat pahala
c.       Mendapat pertolongan Alloh

D.      Hubungan Antara Islam, Iman Dan Ihsan
            Adapun kaitan antara ketiga hal tersebut yaitu Iman berkaitan dengan aqidah, Islam berkaitan dengan syariah, dan Ihsan berkaitan dengan khuluqiya. Dari ketiga hal diatas maka dalam perkembangan ilmu keislaman, ilmu terkelompokan menjadi Aqidah, fiqih, dan Akhlaq.       
            Diantara pengelompokan kata dalam agama islam ialah iman, islam dan ihsan. Berdasarkan sebuah hadist yang terkenal, ketiga istilah itu memberikan umat ide tentang rukun iman, rukun islam dan penghayatan terhadap tuhan yang maha Hadir dalam hidup.
            Setiap pemeluk islam mengetahui dengan pasti bahwa islam tidak absah tanpa iman, dan iman tidak sempurna tanpa ihsan. Dari pengertian tersebut memiliki arti masing-masing istilah terkait satu denga yang lain. Bahkan tumpang tindih sehingga satu dari ketiga istilah tersebut mengandung makna dua istilah yang lainnya. Dari pengertian inilah kita mengerti bahwa islam, iman dan ihsan adalah trilogy ajaran Ilahi
 
DAFTAR PUSTAKA
H.Aunur Rahim Faqih. 1997. Aqidah Islam.Yogyakarta: UII Press.
H. Tarmidzi S.2000. Aqidah Akhlaq. Jakarta: DepAg RI.
Drs.Tahrir, Team MGMP. 2006. Esensi Agama Islam. Yogyakarta: Karya Pustaka.
Hussain, Muhammad Fadhlullah, 1995, Logika dan Kekuatan Islam, Mizan, Bandung.  
 

Jumat, 15 April 2011

JAM'UL QUR'AN

Pengertian Jam’ul Qur’an

Jam’ul Qur’an (Pengumpulan Al–Qur’an) oleh para ulama diartikan menjadi dua makna:
1. Pengumpulan dalam arti Hifzuhu (menghafal dalam hati)
Rasulullah SAW adalah penghafal Qur’an pertama dan contoh paling baik bagi sahabat dalam menghafal Qur’an, sebagai realisasi dari kecintaan mereka terhadap pokok agama dan sumber risalah. Para sahabat selalu berkompetisi dalam menghafal Qur’an, bahkan memerintahkan anak dan istrinya dalam mengahafalnya. Mereka membaca dalam Qiyamul–lail, sehingga dari rumah mereka suara bacaan Al–Qur’an terdengar seperti suara lebah. Sahabat yang terkenal dalam bidang hafalan Qur’an (hafidz) ada 7 orang, yaitu: Abdullah bin Mas’ud, Salim bin Mua’qqil, Muadz bin Jabal, Ubay Bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Zaid bin Sukun, dan Abu Darda’. Hal ini disebutkan dalam tiga dari dua hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari di bawah ini: 1. Dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘As berkata: “ Aku mendengar Rasulullah berkata: ‘Ambillah Al–qur’an itu dari empat orang: Abdullah Bin Mas’ud, Salim, Mu’adz dan Ubay bin Ka’ab.”’ 2. Dari Anas berkata: ”Rasulullah wafat sedang qur’an belum dihafal kecuali oleh empat orang: Abu Darda, Mu’adz bin Jabal, Zaid bin Tsabin dan Abu Zaid.”
2. Pengumpulan dalam arti Kitabatuhu kullihi (penulisan Al–qur’an keseluruhan)
Pengumpulan Al-qur’an terdiri tiga periode, yaitu Masa Rasulullah SAW, Masa Khalifah Abu Bakar dan Masa Khalifah Utsman Bin Affan.

B. Penggagas Pertama Pengumpulan Al Qur`an

a.  Pengumpulan al Qur`an pada Masa Nabi
Rasulullah telah mengangkat para sahabat sebagai penulis wahyu. Diantara mereka adalah ‘Ali, Muawiyah, Ubay Bin Ka’ab dan Zaid Bin Tsabit. Bila turun ayat, Rasulullah memerintahkan mereka untuk menuliskannya dan menunjukkan tempat ayat tersebut dalam suatu surat. Hal itu sesuai dengan anjuran Jibril ‘alaihissalam. Para sahabat menuliskannya pada pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun, pelana atau potongan tulang binatang. Karena keterbatasan media, sehingga pada masa itu Al–qur’an belum rapi dan belum berbentuk mushaf. Ali bin Abi Thalib sebagai pengumpul pertama al Qur`an pada masa Nabi berdasarkan perintah Nabi sendiri. Di kalangan Syi`ah menegaskan Ali bin Abi Thalib sebagai orang pertama yang mengumpulkan al Qur`an setelah wafatnya Nabi. Sumber-sumber Sunni juga mengungkapkan bahwa Ali memiliki kumpulan al Qur`an. Di kalangan ortodok Islam, pengumpulan al Qur`an dapat dilakukan secara resmi pada masa pemerintahan Abu Bakar al- Shiddiq. Al Khatthabi berkata, “ Rasulullah tidak mengumpulkan al Qur`an dalam satu mushaf karena senantiasa menunggu ayat yang menghapus terhadap sebagian hukum-hukum atau bacaannya. Sesudah berakhir masa turunnya dengan wafatnya Rasulullah maka Allah mengilhamkan penulisan mushaf secara lengkap kepada para Khulafaur Rasyidin sesuai dengan janji-Nya yang benar kepada umat ini tentang jaminan pemeliharaannya “. Dengan demikian, jam`ul Qur`an ( pengumpulan al Qur`an ) pada masa Nabi dinamakan Hifzhan ( hafalan ) dan Kitabatan ( pembukuan ) yang pertama.

b.  Pengumpulan al Qur`an pada Masa Abu Bakar
Penulisan Al–qur’an pada masa Abu Bakar adalah dalam rangka menjaga keutuhan Al–qur’an agar tidak hilang, seiring dengan banyaknya para penghafal Al–qur’an yang syahid di medan perang. Abu Bakar menjadi khalifah pertama sepeninggal Rasulullah SAW. Ia dihadapkan pada peristiwa–peristiwa berkenaan dengan kemurtadan sebagian orang Arab. Karena itu ia segera menyiapkan pasukan dan mengirimkannya untuk memerangi orang yang murtad itu. Perang Yamamah terjadi pada tahun ke 12 hijriah melibatkan sejumlah besar penghafal Al–qur’an. Dalam peperangan ini sejumlah 70 penghafal Al–qur’an gugur. Penggagas pertama pengumpulan al Qur`an pada masa itu adalah Umar bin Khattab yang memberikan usul kepada Abu Bakar al Shiddiq. Abu Bakar yang menjabat sebagai khalifah yang pertama setelah Rasulullah wafat. Ia dihadapkan pada peristiwa-peristiwa besar yang berkenaan dengan murtadnya sejumlah orang Arab. Umar bin Kahattab merasa khawatir jika peperangan di tempat lain akan membunuh banyak penghafal Al–qur’an. Ia lalu menghadap kepada Abu Bakar untuk mengajukan usul agar mengumpulkan dan membukukan Al–qur’an, karena dikhawatirkan akan musnah. Abu Bakar menolak usulan ini karena tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah. Tatapi Umar tetap membujuknya, sehingga Allah SWT membuka hati Abu Bakar untuk menerima usdulan tersebut. Kemudian Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan dan membukukan al-Qur`an mengingat kedudukannya dalam masalah qira`at, hafalan, penulisan, pamahaman dan kecerdasannya serta kehadirannya pada pembacaan al Qur`an yang terakhir di hadapan Nabi. Pada awalnya Zaid menolak, keduanya bertukar pendapat sampai akhirnya Zaid dapat menerima dengan lapang dada perintah penulisan itu. Zaid memulai tugas beratnya dengan bersandar pada hafalan yang ada dalam hati para penghafal dan catatan yang ada pada penulis, Zaid bin Tsabit bertindak sangat teliti dan hati-hati. Kemudian lembaran–lembaran tersebut disimpan oleh Abu Bakar. Setelah Abu Bakar wafat pada tahun 13 Hijriah, kemudian berpindah ke tangan Umar hingga ia wafat. Kemudian berpindah ke tangan Hafsah, putri Umar. Pada permulaan kepemimpinan Khalifah Utsman, Utsman memintanya dari tangan Hafsah.   Para ulama berpendapat bahwa penamaan al Qur`an dengan mushaf baru muncul sejak Abu Bakar mengumpulkan al Qur`an. Kata Ali, “ orang yang paling besar pahalanya berkenaan dengan mushaf ialah Abu Bakar “. Jam`ul Qur`an ( pengumpulan al Qur`an ) pada masa Abu Bakar dinamakan jam`u al Qur`an ats-tsani ( pengumpulan al Qur`an kedua ).
Tentang pengumpulan al Qur`an pada masa Abu Bakar, terdapat dua pandangan yaitu versi mayoritas dan versi minoritas.
1. Versi mayoritas •    Dalam versi mayoritas, Umar sebagai penggagas intelektual pengumpulan pertama al- Qur`an, saedangkan Abu Bakar orang yang memerintahkan pengumpulan dalam kapasitasnya sebagai penguasa dan menunjuk pelaksana teknis, serta menerima hasil pekerjaan berupa mushaf al Qur`an. •    Dalam versi mayoritas, alasan penunjukkan Zaid sebagai pelaksana teknis pengumpulan al Qur`an terlihat sangat transparan, dan terdapat kesepakatan tentangnya dalam keseluruhan riwayat. Usia muda, inteligensia tinggi, dan pekerjaan di masa Nabi sebagai penulis wahyu, merupakan kriteria yang dipegang Abu Bakar dalam penunjukkan Zaid sebagai pengumpul al Qur`an.
2. Versi minoritas •    Versi minoritas yang membias tidak memiliki kesatuan pandang tentang pribadi-pribadi yang bergulat dan terkait secara langsung atau tidak langsung dengan pengumpulan pertama al Qur`an. Riwayat terpencil mengemukakan Ali bin Abi Thalib dan Salim bin Ma`qil sebagai pengumpul pertama al Qur`an. •    Dalam versi minoritas terdapat riwayat al Zuhri yang mengungkapkan bahwa, ketika banyak kaum Muslimin yang terbunuh dalam pertempuran Yamamah, Abu Bakarlah yang justeru mencemaskan akan musnahnya sejumlah besar qurra`. •    Dalam versi minoritas lainnya bahkan memangkas peran khalifah pertama dan meletakkan keseluruhan upaya pengumpulan al Qur`an di atas pundak khalifah kedua. Dalam riwayat ini dikisahkan bahwa suatu ketika Umar bertanya tentang suatu bagian al Qur`an dan dikatakan bahwa bagian tersebut berada pada seseorang yang tewas dalam pertempuran Yamamah. Ia mengekspresikan rasa kehilangan dengan mengucapkan innalillahi wainna ilaihi rajiun, lalu ia memerintahkan untuk mengumpulkan al Qur`an, sehingga ia adalah orang pertama yang mengumpulkan al Qur`an ke dalam mushaf. Secara implisit, di sini disebutkan bahwa baik proses awal maupun proses akhir pengumpulan al Qur`an berlangsung pada masa pemerintahan Umar bin Khattab. •    Riwayat lain mengungkapkan bahwa pekerjaan pengumpulan al Qur`an tidak terselesaikan dengan terbunuhnya khalifah Umar : Umar bin Khattab memutuskan untuk mengumpulkan al Qur`an. Ia berdiri ditengah manusia dan berkata: “ Barang siapa yang menerima bagian al Qur`an apapun langsung dari Rasulullah, bawalah kepada kami “. Mereka telah menulis dari apa yang mereka dengar dari Rasulullah di atas lembaran-lembaran, luh-luh dan pelepah-pelepah kurma. Umar tidak menerima sesuatupun dari seseorang hingga dua orang menyaksikan ( kebenarannya ) tetapi ia terbunuh ketika tengah melakukan pengumpulan al Qur`an. Utsman bin Affan melanjutkannya dan berkata : “ barang siapa yang memiliki sesuatu dari Kitab Allah bawalah kepada kami...”. •    Suatu riwayat minoritas mengungkapkan keterlibatan Ubay dalam pengumpulan al Qur`an pada masa Abu Bakar. Ketika al Qur`an dikumpulkan ke dalam mushaf pada masa khalifah Abu Bakar beberapa orang menyalin didikte oleh Ubay. Ketika mencapai 9:127, beberapa diantaranya memandang bahwa itu merupakan bagian al Qur`an yang terakhir kali diwahyukan. Tetapi, Ubay menunjukkan bahwa Nabi telah mengajarkannya 2 ayat lagi ( 9:128-129 ) yang merupakan bagian terakhir dari wahyu. Versi lain dari riwayat ini mengungkapkan bahwa al Qur`an itu dikimpulkan dari mushaf Ubay. •    Riwayat lain yang cukup fantastik yang disitir oleh Ya`qubi diunbgkapkan bahwa Abu- Bakar menolak pengumpulan al Qur`an lantaran Nabi tidak pernah melakukannya. •    Versi minoritas lainnya berupaya mendamaikan kesimpang siuran antara versi mayoritas pengumpulan Zaid dan versi minoritas tentang pengumpulan pertama al- Qur`an yang dilakukan khalifah Umar.Dalam laporan diungkapkan bahwa Zaid atas perintah Abu Bakar menuliskan wahyu al Qur`an di atas lembaran kulit dan pelepah kurma. Setelah wafatnya Abu Bakar, pada masa khalifah Umar ia menyalin teks wahyu itu ke dalam lembaran-lembaran yang disatukan ( dahhifah wafi sahi ).

c. Pengumpulan pada Masa Khalifah Utsman bin ‘Affan
Penulisan pada masa Usman terjadi pada tahun 25 Hijriah. Penulisan pada masa ini adalah dalam rangka menyatukan berbagai macam perbedaan bacaan yang beredar di masyarakat saat itu. Ketika terjadi perang Armenia dan zarbaijan dengan penduduk Irak, di antara orang yang ikut menyerbu kedua tempat itu ialah Huzaifah bin Yaman. Ia melihat banyak perbedaan dalam cara–cara membaca Al–qur’an. Sebagian bacaan itu bercampur dengan kesalahan, tetapi masing–masing mempertahankan dan berpegang pada bacaannya, serta menentang setiap orang yang menyalahi bacaannya dan bahkan mereka saling mengkafirkan. Melihat kenyataan demikian Huzaifah segera menghadap Utsman dan melaporkan kepadanya apa yang dilihatnya. Dengan keadaan demikian, Utsman pun khawatir bahwa akan adanya perbedaan bacaan pada anak–anak nantinya. Para sahabat memprihatinkan kenyataan karena takut kalau ada penyimpangan dan perubahan. Mereka bersepakat untuk menyalin lembaran–lembaran pertama yang ada pada Abu Bakar dan menyatukan umat Islam pada lembaran–lembaran itu dengan bacaan yang tetap pada satu huruf. Utsman kemudian mengirimkan utusan kepada Hafsah untuk meminjam mushaf yang ada padanya. Kemudian Utsman membentuk panitia yang beranggotakan Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin ‘As, dan Abdurrahman bin Haris bin Hisyam, ketiga orang terakhir adalah suku Quraisy. Lalu memerintahkan mereka untuk memperbanyak mushaf. Nasehat Utsman kepada mereka: 1. Mengambil pedoman kepada bacaan mereka yang hafal Al–qur’an 2. Jika ada perselisihan di antara mereka tentang bahasa (bacaan), maka haruslah dituliskan dalam dialek suku Quraisy, sebab Al–qur’an diturunkan menurut dialek mereka . Mereka melaksanakan perintah tersebut. Setelah mereka selesai menyalinnya menjadi beberapa mushaf, Utsman mengembalikan lembaran asli kepada Hafsah. Al–qur’an yang telah dibukua dinamai dengan “Al – Mushaf”, dan panitia membuat lima buah mushaf. Empat di antaranya dikirimkan ke Mekah, Syria, Basrah dan Kufah, agar di tempat – tepat itu disalin pula, dan satu buah ditinggalkan di Madinah, untuk Utsman sendiri, dan itulah yang dinamai Mushaf “Al–Imam”, dan memerintahkan agar semua Al–qur’an atau mushaf yang ada dibakar. Dengan bentuk laporan tersebut kedua versi tentang pengumpulan pertama al Qur`an tidak lagi bertabrakan.

C. Peran Khulafaur Rasyidin dalam Pembukuan al Qur`an

1.  Khalifah Abu Bakar al Shiddiq
Abu Bakar al Shiddiq merupakan orang pertama yang mengumpulkan al Qur`an atas pertimbangan ususlan dari Umar bin Khattab pada masa Khulafaur Rasyidin. Dengan menunjuk Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan dan membukukan al Qur`an.

2. Khalifah Umar bin Khattab
Umar bin Khattab berperan sebagai penggagas intelektual pengumpulan pertama al- Qur`an pada masa khalifah Abu Bakar. Umar khawatir akan musnahnya al Qur`an karena perang Yamamah telah banyak menggugurkan para qarri`.

3. Khalifah Utsman bin Affan
Utsman bin Affan menyalin lembaran-lembaran ke dalam mushaf-mushaf dengan menertibkan atau menyusun suratnya dan membatasinya hanya dengan bahasa Quraisy. Ia juga menghilangkan perselisihan / perpecahan di kalangan kaum Muslimin yang disebabkan adanya perbedaan qiraat al Qur`an di antara mereka.Khalifah Utsman juga berhasil menyusun Mushaf Utsmani. Dengan demikian, dibukukannya Al–qur’an di masa Utsman manfaatnya yang utama adalah: 1. menyatukan kaum muslimin pada satu macam mushaf yang seragam ejaan dan tulisannya. 2. menyatukan bacaan, dan kendatipun masih ada kelainan bacaan, tetapi tidak tidak bertentangan dengan ejaan mushaf–mushaf Utsman. 3. menyatukan tertib susunan surat–surat. Sebab–sebab Al–qur’an belum dibukukan semasa Rasulullah SAW hidup Sebab–sebab mengapa Al–qur’an belum dibukukan pada masa Nabi saw masih hidup adalah: 1. Al–qur’an diturunkan secara berangsur–angsur dan terpisah–pisah. 2. Sebagian ayat ada yang dimansukh. Mansukh dan nasikh adalah menurut para ulama salaf pada umumnya adalah pembatalan hukum secara global, dan itu merupakan istilah para ulama muta’akhirin (belakangan); atau pembatalan dalalah (aspek dalil) yang umum, mutlak dan nyata. Pembatalan ini dapat berupa pengkhususan atau pemberian syarat tertentu, atau mengartikan yang mutlak menjadi yang terikat dengan suatu syarat, menafsirkannya dan menjelaskannya. 3. Susunan ayat dan surat tidaklah berdasarkan urutan turunnya. 4. Masa turunnya wahyu terakhir dengan wafatnya Rasulullah adalah sangat dekat. Demikianlah periode masa dibukukannya Al–qur’an, sejak zaman Khalifah Utsman bin Affan sampai dengan Al–qur’an yang ada pada sekarang. Bahkan sampai saat ini, dengan adanya mushaf Al–qur’an, Al–qur’an menjadi satu–satunya buku yang paling banyak dihafal oleh manusia di dunia, baik sebagian maupun keseluruhan isinya. Sehingga keberadaan dan kemurnian Al–qur’an akan selalu terjaga sampai hari kiamat sebagaimana tersebut dalam firman Allah SWT : “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al – qur’an, dan sesungguhnya Kami benar – benar memeliharanya.”. (Qs. Al–Hijr : 9)

4. Khalifah Ali bin Abi Thalib   
Ali bin Abi Thalib merupakan pengumpul pertama al Qur`an pada masa Nabi berdasarkan perintah Nabi sendiri. Ia menunjuk kesepakatan atau ijma` akan kemutawatiran al-Qur`an yang tertulis dalam mushaf.         

DAFTAR PUSTAKA
Ash-Shiddieqy, Muhammad Hasbi. 2002. ILMU-ILMU AL-QUR’AN. Semarang: Pustaka Rizki Putra  Mundzir, Hamam. 1990. AL-QUR’AN DAN TERJEMAHNYA. Jakarta: Lajnah Pentashih Al-Qur’an