Follow by Email

FILM FIKSI ILMIAH

  • FILM KOLOSAL

Rabu, 27 April 2011

ILMU PENGETAHUAN


PEMBAGIAN PENGETAHUAN
Saat ini pembagian pengetahuan yang dianggap baku boleh dikatakan tidak ada yang memuaskan dan diterima semua pihak. Pembagian yang lazim dipakai dalam dunia keilmuan di Barat terbagi menjadi dua saja, sains (pengetahuan ilmiah) dan humaniora. Termasuk ke dalam sains adalah ilmu-ilmu alam (natural sciences) dan ilmu-ilmu sosial (social sciences), dengan cabang-cabangnya masing-masing. Termasuk ke dalam humaniora adalah segala pengetahuan selain itu, misalnya filsafat, agama, seni, bahasa, dan sejarah.
Penempatan beberapa jenis pengetahuan ke dalam kelompok besar humaniora sebenarnya menyisakan banyak kerancuan karena besarnya perbedaan di antara pengetahuan-pengetahuan itu, baik dari segi ontologi, epistemologi, maupun aksiologi. Kesamaannya barangkali terletak pada perbedaannya, atau barangkali sekadar pada fakta bahwa pengetahuan-pengetahuan humaniora itu tidak dapat digolongkan sebagai sains. Humaniora itu sendiri, pengindonesiaan yang tidak persis dari kata Inggris humanities, berarti (segala pengetahuan yang) berkaitan dengan atau perihal kemanusiaan. Tetapi kalau demikian, maka ilmu-ilmu sosial pun layak dimasukkan ke dalam humaniora karena sama-sama berkaitan dengan kemanusiaan.
Perlu diketahui bahwa akhir-akhir ini kajian epistemologi di Barat cenderung menolak kategorisasi pengetahuan (terutama dalam humaniora dan ilmu sosial) yang ketat. Pemahaman kita akan suatu permasalahan tidak cukup mengandalkan analisis satu ilmu saja. Oleh karena itu muncullah gagasan pendekatan interdisiplin atau multidisplin dalam memahami suatu permasalahan. Bidang-bidang kajian yang ada di perguruan tinggi-perguruan tinggi Barat tidak lagi hanya berdasarkan jenis-jenis keilmuan tradisional, tetapi pada satu tema yang didekati dari gabungan berbagai disiplin. Misalnya program studi Timur Tengah, studi Asia Tenggara, studi-studi keislaman (Islamic studies), studi budaya (cultural studies), dll.
Tema-tema yang dahulu menjadi monopoli satu ilmu pun kini harus didekati dari berbagai macam disiplin agar diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif. Wilayah-wilayah geografis tertentu, misalnya Jawa, suku Papua, pedalaman Kalimantan, atau Maroko dan Indian, yang dahulu dimonopoli ilmu antropologi, kini harus dipahami dengan menggunakan berbagai macam disiplin (sosiologi, psikologi, semiotik, bahkan filsafat).
Pendekatan interdisiplin ini pun kini menguat dalam kajian-kajian keislaman, termasuk dalam fikih. Untuk menentukan status hukum terutama dalam permasalahan kontemporer, pemakaian ilmu fikih murni tidak lagi memadai. Apalagi jika fikih dimengerti sebagai fikih warisan zaman mazhab-mazhab. Ilmu-ilmu modern saat ini menuntut untuk lebih banyak dilibatkan dalam penentuan hukum suatu masalah. Sekadar contoh, untuk menentukan hukum pembuatan bayi tabung, diperlukan pemahaman akan biologi dan kedokteran. Untuk menghukumi soal berbisnis di bursa saham, ilmu ekonomi harus dipahami. Dll.
TIGA ASPEK PENGETAHUAN
Ada tiga aspek yang membedakan satu pengetahuan dengan pengetahuan lainnya, yakni ontologi, epistemologi, dan aksiologi.
Ontologi
Ontologi adalah pembahasan tentang hakekat pengetahuan. Ontologi membahas pertanyaan-pertanyaan semacam ini: Objek apa yang ditelaah pengetahuan? Adakah objek tersebut? Bagaimana wujud hakikinya? Dapatkah objek tersebut diketahui oleh manusia, dan bagaimana caranya?
Epistemologi
Epistemologi adalah pembahasan mengenai metode yang digunakan untuk mendapatkan pengetahuan. Epistemologi membahas pertanyaan-pertanyaan seperti: bagaimana proses yang memungkinkan diperolehnya suatu pengetahuan? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Lalu benar itu sendiri apa? Kriterianya apa saja?
Aksiologi
Aksiologi adalah pembahasan mengenai nilai moral pengetahuan. Aksiologi menjawab pertanyaan-pertanyaan model begini: untuk apa pengetahuan itu digunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan pengetahuan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara metode pengetahuan dengan norma-norma moral/profesional?
Perbedaan suatu pengetahuan dengan pengetahuan lain tidak mesti dicirikan oleh perbedaan dalam ketiga aspek itu sekaligus. Bisa jadi objek dari dua pengetahuan sama, tetapi metode dan penggunaannya berbeda. Filsafat dan agama kerap bersinggungan dalam hal objek (sama-sama membahas hakekat alam, baik-buruk, benar-salah, dsb), tetapi metode keduanya jelas beda. Sementara perbedaan antar sains terutama terletak pada objeknya, sedangkan metodenya sama.
SUMBER PENGETAHUAN
Indera
Indera digunakan untuk berhubungan dengan dunia fisik atau lingkungan di sekitar kita. Indera ada bermacam-macam; yang paling pokok ada lima (panca indera), yakni indera penglihatan (mata) yang memungkinkan kita mengetahui warna, bentuk, dan ukuran suatu benda; indera pendengaran (telinga) yang membuat kita membedakan macam-macam suara; indera penciuman (hidung) untuk membedakan bermacam bau-bauan; indera perasa (lidah) yang membuat kita bisa membedakan makanan enak dan tidak enak; dan indera peraba (kulit) yang memungkinkan kita mengetahui suhu lingkungan dan kontur suatu benda.
Pengetahuan lewat indera disebut juga pengalaman, sifatnya empiris dan terukur. Kecenderungan yang berlebih kepada alat indera sebagai sumber pengetahuan yang utama, atau bahkan satu-satunya sumber pengetahuan, menghasilkan aliran yang disebut empirisisme, dengan pelopornya John Locke (1632-1714) dan David Hume dari Inggris. Mengenai kesahihan pengetahuan jenis ini, seorang empirisis sejati akan mengatakan indera adalah satu-satunya sumber pengetahuan yang dapat dipercaya, dan pengetahuan inderawi adalah satu-satunya pengetahuan yang benar.
Tetapi mengandalkan pengetahuan semata-mata kepada indera jelas tidak mencukupi. Dalam banyak kasus, penangkapan indera seringkali tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Misalnya pensil yang dimasukkan ke dalam air terlihat bengkok, padahal sebelumnya lurus. Benda yang jauh terlihat lebih kecil, padahal ukuran sebenarnya lebih besar. Bunyi yang terlalu lemah atau terlalu keras tidak bisa kita dengar. Belum lagi kalau alat indera kita bermasalah, sedang sakit atau sudah rusak, maka kian sulitlah kita mengandalkan indera untuk mendapatkan pengetahuan yang benar.
Akal
Akal atau rasio merupakan fungsi dari organ yang secara fisik bertempat di dalam kepala, yakni otak. Akal mampu menambal kekurangan yang ada pada indera. Akallah yang bisa memastikan bahwa pensil dalam air itu tetap lurus, dan bentuk bulan tetap bulat walaupun tampaknya sabit. Keunggulan akal yang paling utama adalah kemampuannya menangkap esensi atau hakikat dari sesuatu, tanpa terikat pada fakta-fakta khusus. Akal bisa mengetahui hakekat umum dari kucing, tanpa harus mengaitkannya dengan kucing tertentu yang ada di rumah tetangganya, kucing hitam, kucing garong, atau kucing-kucingan.
Akal mengetahui sesuatu tidak secara langsung, melainkan lewat kategori-kategori atau ide yang inheren dalam akal dan diyakini bersifat bawaan. Ketika kita memikirkan sesuatu, penangkapan akal atas sesuatu itu selalu sudah dibingkai oleh kategori. Kategori-kategori itu antara lain substansi, kuantitas, kualitas, relasi, waktu, tempat, dan keadaan.
Pengetahuan yang diperoleh dengan akal bersifat rasional, logis, atau masuk akal. Pengutamaan akal di atas sumber-sumber pengetahuan lainnya, atau keyakinan bahwa akal adalah satu-satunya sumber pengetahuan yang benar, disebut aliran rasionalisme, dengan pelopornya Rene Descartes (1596-1650) dari Prancis. Seorang rasionalis umumnya mencela pengetahuan yang diperoleh lewat indera sebagai semu, palsu, dan menipu.
Hati atau Intuisi
Organ fisik yang berkaitan dengan fungsi hati atau intuisi tidak diketahui dengan pasti; ada yang menyebut jantung, ada juga yang menyebut otak bagian kanan. Pada praktiknya, intuisi muncul berupa pengetahuan yang tiba-tiba saja hadir dalam kesadaran, tanpa melalui proses penalaran yang jelas, non-analitis, dan tidak selalu logis. Intuisi bisa muncul kapan saja tanpa kita rencanakan, baik saat santai maupun tegang, ketika diam maupun bergerak. Kadang ia datang saat kita tengah jalan-jalan di trotoar, saat kita sedang mandi, bangun tidur, saat main catur, atau saat kita menikmati pemandangan alam.
Intuisi disebut juga ilham atau inspirasi. Meskipun pengetahuan intuisi hadir begitu saja secara tiba-tiba, namun tampaknya ia tidak jatuh ke sembarang orang, melainkan hanya kepada orang yang sebelumnya sudah berpikir keras mengenai suatu masalah. Ketika seseorang sudah memaksimalkan daya pikirnya dan mengalami kemacetan, lalu ia mengistirahatkan pikirannya dengan tidur atau bersantai, pada saat itulah intuisi berkemungkinan muncul. Oleh karena itu intuisi sering disebut supra-rasional atau suatu kemampuan yang berada di atas rasio, dan hanya berfungsi jika rasio sudah digunakan secara maksimal namun menemui jalan buntu.
Hati bekerja pada wilayah yang tidak bisa dijangkau oleh akal, yakni pengalaman emosional dan spiritual. Kelemahan akal ialah terpagari oleh kategori-kategori sehingga hal ini, menurut Immanuel Kant (1724-1804), membuat akal tidak pernah bisa sampai pada pengetahuan langsung tentang sesuatu sebagaimana adanya (das ding an sich) atau noumena. Akal hanya bisa menangkap yang tampak dari benda itu (fenoumena), sementara hati bisa mengalami sesuatu secara langsung tanpa terhalang oleh apapun, tanpa ada jarak antara subjek dan objek.
Kecenderungan akal untuk selalu melakukan generalisasi (meng-umumkan) dan spatialisasi (meruang-ruangkan) membuatnya tidak akan mengerti keunikan-keunikan dari kejadian sehari-hari. Hati dapat memahami pengalaman-pengalaman khusus, misalnya pengalaman eksistensial, yakni pengalaman riil manusia seperti yang dirasakan langsung, bukan lewat konsepsi akal. Akal tidak bisa mengetahui rasa cinta, hatilah yang merasakannya. Bagi akal, satu jam di rutan salemba dan satu jam di pantai carita adalah sama, tapi bagi orang yang mengalaminya bisa sangat berbeda. Hati juga bisa merasakan pengalaman religius, berhubungan dengan Tuhan atau makhluk-makhluk gaib lainnya, dan juga pengalaman menyatu dengan alam.
Pengutamaan hati sebagai sumber pengetahuan yang paling bisa dipercaya dibanding sumber lainnya disebut intuisionisme. Mayoritas filosof Muslim memercayai kelebihan hati atas akal. Puncaknya adalah Suhrawardi al-Maqtul (1153-1192) yang mengembangkan mazhab isyraqi (iluminasionisme), dan diteruskan oleh Mulla Shadra (w.1631). Di Barat, intuisionisme dikembangkan oleh Henry Bergson.
Selain itu, ada sumber pengetahuan lain yang disebut wahyu. Wahyu adalah pemberitahuan langsung dari Tuhan kepada manusia dan mewujudkan dirinya dalam kitab suci agama. Namun sebagian pemikir Muslim ada yang menyamakan wahyu dengan intuisi, dalam pengertian wahyu sebagai jenis intuisi pada tingkat yang paling tinggi, dan hanya nabi yang bisa memerolehnya.
Dalam tradisi filsafat Barat, pertentangan keras terjadi antara aliran empirisisme dan rasionalisme. Hingga awal abad ke-20, empirisisme masih memegang kendali dengan kuatnya kecenderungan positivisme di kalangan ilmuwan Barat. Sedangkan dalam tradisi filsafat Islam, pertentangan kuat terjadi antara aliran rasionalisme dan intuisionisme (iluminasionisme, ‘irfani), dengan kemenangan pada aliran yang kedua. Dalam kisah perjalanan Nabi Khidir a.s. dan Musa a.s., penerimaan Musa atas tindakan-tindakan Khidir yang mulanya ia pertanyakan dianggap sebagai kemenangan intuisionisme. Penilaian positif umumnya para filosof Muslim atas intuisi ini kemungkinan besar dimaksudkan untuk memberikan status ontologis yang kuat pada wahyu, sebagai sumber pengetahuan yang lebih sahih daripada rasio.
LOGIKA
Logika adalah cara berpikir atau penalaran menuju kesimpulan yang benar. Aristoteles (384-322 SM) adalah pembangun logika yang pertama. Logika Aristoteles ini, menurut Immanuel Kant, 21 abad kemudian, tidak mengalami perubahan sedikit pun, baik penambahan maupun pengurangan.
Aristoteles memerkenalkan dua bentuk logika yang sekarang kita kenal dengan istilah deduksi dan induksi. Logika deduksi, dikenal juga dengan nama silogisme, adalah menarik kesimpulan dari pernyataan umum atas hal yang khusus. Contoh terkenal dari silogisme adalah:
- Semua manusia akan mati (pernyataan umum, premis mayor)
- Isnur manusia (pernyataan antara, premis minor)
- Isnur akan mati (kesimpulan, konklusi)
Logika induksi adalah kebalikan dari deduksi, yaitu menarik kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang bersifat khusus menuju pernyataan umum. Contoh:
- Isnur adalah manusia, dan ia mati (pernyataan khusus)
- Muhammad, Asep, dll adalah manusia, dan semuanya mati (pernyataan antara)
- Semua manusia akan mati (kesimpulan)
TEORI-TEORI KEBENARAN
Korespondensi
Sebuah pernyataan dikatakan benar bila sesuai dengan fakta atau kenyataan. Contoh pernyataan “bentuk air selalu sesuai dengan ruang yang ditempatinya”, adalah benar karena kenyataannya demikian. “Kota Jakarta ada di pulau Jawa” adalah benar karena sesuai dengan fakta (bisa dilihat di peta). Korespondensi memakai logika induksi.
Koherensi
Sebuah pernyataan dikatakan benar bila konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Contoh pernyataan “Asep akan mati” sesuai (koheren) dengan pernyataan sebelumnya bahwa “semua manusia akan mati” dan “Asep adalah manusia”. Terlihat di sini, logika yang dipakai dalam koherensi adalah logika deduksi.
Pragmatik
Sebuah pernyataan dikatakan benar jika berguna (fungsional) dalam situasi praktis. Kebenaran pragmatik dapat menjadi titik pertemuan antara koherensi dan korespondensi. Jika ada dua teori keilmuan yang sudah memenuhi kriteria dua teori kebenaran di atas, maka yang diambil adalah teori yang lebih mudah dipraktikkan. Agama dan seni bisa cocok jika diukur dengan teori kebenaran ini. Agama, dengan satu pernyataannya misalnya “Tuhan ada”, adalah benar secara pragmatik (adanya Tuhan berguna untuk menopang nilai-nilai hidup manusia dan menjadikannya teratur), lepas dari apakah Tuhan ada itu sesuai dengan fakta atau tidak, konsisten dengan pernyataan sebelumnya atau tidak.
***
Perceraian sains dan filsafat
Kita telah melihat dua permasalahan besar sains di penghujung abad 20 ini. Pertama, rapuhnya bangunan ide tentang materi itu sendiri. Dan kedua, keterbatasan atau, meminjam istilah kosmolog Indonesia Karlina Leksono, ketercakrawalaan metoda saintifik yang empirik dan induktif tersebut. ketercakrawalaan ini hendak didongkrak oleh para reformis metoda saintifik seperti Popper, Kuhn dan Feyerbend, walaupun tidak menghasilkan kesimpulan yang pasti. Kedua permasalahan ini menunjukkan bahwa materialisme sains dan metoda saintifik tidak mampu mengukuhkan keabsahan dirinya sendiri. Khususnya, metoda saintifik tidak berhasil mengantarkan para saintis mencapai misi utama sains: pencerahan pikiran manusia mengenai Alam Semesta.
Selanjutnya kita akan melihat permasalahan sains dari sudut pandang yang lain, yang tak kalah pentingnya.
Sejarah pengetahuan manusia menunjukkan bahwa terdapat dua sumber utama bagi pengembangan pengetahuan manusia: (1) pengetahuan dan niscaya rasional dan (2) pengetahuan empirik melalui pengamatan inderawi. Pengetahuan niscaya rasional merupakan pengetahuan yang kebenarannya telah jelas dengan sendirinya, sehingga tidak memerlukan bukti apa pun. Misalnya, prinsip non-kontradiksi. Yaitu bahwa pembenaran sesuatu dan pembantahan sesuatu tersebut tidak mungkin terjadi sekaligus. Sebagai ilustrasi, kalau seorang penguasa berwatak korup dan tiran, tidak mungkin ia peduli terhadap keadilan sosial. Sebab, tiran dan adil adalah dua hal yang berlawanan. Prinsip rasional lain misalnya adalah prinsip sebab-akibat dan prinsip bahwa sebagian itu lebih kecil dari keseluruhan. Pengetahuan niscaya rasional inilah yang merupakan tumpuan dari bangunan filsafat. Sedangkan, pengetahuan empirik diperoleh melalui data pengamatan inderawi. Teori-teori dalam sains bertumpu pada pengetahuan jenis ini. Baik sains maupun filsafat keduanya merupakan 'alat-alat' manusia untuk melihat Alam Semesta, fenomena sosial dan dirinya sendiri. Perbedaan antara sains dan filsafat terletak pada sumber-sumber pokok pengetahuan yang dijadikan tumpuan mereka. Sains bertumpu pada hasil pengamatan eksperimental, sementara filsafat bersandar pada prinsip-prinsip niscaya rasional yang kebenarannya tidak bergantung pada pengamatan inderawi manusia. karena itu, keduanya bersifat saling melengkapi dan sesungguhnya tidak perlu dipertentangkan. Sains dan filsafat bahkan pernah menjalin hubungan yang serasi di era Yunani Kuno (abad 5 SM sampai sekitar abad 5 M) dan di era Islam (sekitar 750 M sampai 1100 M). namun hubungan ini mulai retak ketika di abad 17 M sains menafikan (atau menolak mentah-mentah) filsafat secara total.
Penafian (penolakan mentah-mentah) terhadap filsafat diawali sekitar tiga abad yang lalu ketika para perintis empirisme seperti John Locke (1632-1704), Berkeley (168-1753) dan David Hume (1711-1776) memproklamasikan hak monopoli pengalaman inderawi dalam membangun pengetahuan manusia. penafian ini kemudian dipertajam belakangan oleh positivisme, yang ditokohi oleh Alfred Ayer (1910 - ). Ayer menegaskan bahwa sebuah pernyataan itu bisa bermakna, hanya jika ia dapat dibenarkan atau disalahkan melalui eksperimental inderawi. Empirisme ini membangun landasan epistemologis bagi paham materialisme. Di sisi lain, Fisika Newton memberikan landasan hukum empirik yang mekanistik bagi materialisme. Dengan empirisme dan fisika materialistik Newton maka tegaklah fondasi materialisme. Dan dengan kukuhnya materialisme ini, resmilah perceraian antara sains dan filsafat.
Perceraian antara sains dan filsafat merupakan karakter utama dari peradaban Barat semenjak zaman Renaisans di abad 17. Sejak perceraian itu sains mengambil alih posisi filsafat dan berperan sebagai penguasa tunggal dalam pengembangan pengetahuan manusia, baik tentang fenomena fisika, sosial maupun tentang diri manusia itu sendiri. Hal inilah yang bisa berdampak bencana besar bagi pemikiran manusia itu sendiri. Sebab, dengan dikesampingkannya filsafat dan sumber pengetahuan rasional, perkembangan pengetahuan itu sendiri menjadi sangat terbatasi. Sains, yang salah satu misi utamanya adalah mencerahkan manusia dengan cahaya pengetahuan tentang Alam Semesta, menjadi berkurang atau bahkan kehilangan daya pencerahannya. Perceraian sains dan filsafat juga berdampak sekularisasi, yakni pemisahan antara sains dan agama. Sebab, bangunan agama, sebagai sumber pengetahuan dan ajaran yang universal, tidak bertumpu pada metoda saintifik. Karena itu sains dan agama tidak mungkin bertemu, selama perceraian antara sains dengan filsafat masih terjadi. Selain itu semua, ketika sains memegang hak monopoli dalam pengetahuan, ia menjadi bersifat tertutup, tidak transparan dan otoriter. Dalam situasi demikian, kekeliruan atau penyimpangan yang dilakukan oleh sains tersebut tidak bisa terkoreksi.
Memasuki abad 21 dengan dialog Barat-Timur
Di zaman Yunani Kuno, para pemikira ketika itu menyakini betul kekuatan pencerah dari sains. Mereka memberi penghargaan yang tinggi terhadap sains karena kemampuannya dalam menjelaskan tentang realitas. Sains, yang di masa itu diberi nama filsafat alam, merupakan sumber penting bagi pengetahuan dan kebijaksanaan manusia. filsafat alam dan filsafat tidak hidup terpisah. Ketika itu, para ekonomi dari sains tidak terlalu mendapat perhatian. Di zaman Islam, sejarah menunjukkan adanya penghargaan yang tinggi terhadap sains sebagai bagian dari pengetahuan relijius mereka. Sains, sebagaimana juga seni dan ilmu-ilmu sosial, memperoleh posisi yang tinggi dalam kehidupan masyarakat ketika itu. Sains dipelajari secara terpadu dan harmonis dengan filsafat dan agama. Bahkan agama itulah yang menjadi sumber inspirasi upaya-upaya saintifik ketika itu.
Melihat itu semua, jelas bahwa sains itu memiliki nilai yang luhur dan senantiasa memiliki peran yang penting di berbagai peradaban manusia. Maka kurang tepatlah kalau kita mengesampingkan atau meninggalkan sains dengan segala buahnya. Juga keliru kalau kita merendahkan sains sehingga hanya bernilai ekonomi. Kita perlu optimis untuk bisa mengembalikan sains pada tempatnya yang tinggi dan luhur: sebagai pencerah manusia akan realitas Alam Semesta.
Namun, berdasarkan kelemahan-kelemahan sains yang telah diungkapkan oleh para saintis berkompeten itu sendiri, terdapat beberapa hal yang penting untuk diperhatikan.
1. Pertama, kita perlu memberikan tempat yang seluas-luasnya pada sumber-sumber pengetahuan lain seperti filsafat rasional dan agama. Sejarah menunjukkan bahwa filsafat dan agama memainkan peran yang sentral dalam membangun pengetahuan manusia tentang realitas alam dan dirinya sendiri. Feyerabend telah mengisyaratkan perlunya keterbukaan demikian. Isyarat ini tampaknya perlu ditanggapi secara serius dan lebih meluas di berbagai kalangan intelektual.
2. Tuduhan bahwa agama itu hanya berisi kumpulan doktrin irasional dan mitos, dan bahwa filsafat itu tidak memiliki bangunan pemikiran yang bertumpu pada realitas perlu ditinjau kembali. Selama ini, sering kali para pendukung sains empirik mengesampingkan peran filsafat dan agama berdasarkan tuduhan-tuduhan terburu-buru seperti itu. Namun, mereka kurang memperhatikan pernyataan-pernyataan dari para tokoh yang kompeten di filsafat dan agama. sikap pra duga demikian perlu ditinjau kembali, agar rasa saling mempercayai bisa tumbuh.
3. Di masa depan, yang penting bukannya siapa yang paling sah atau paling layak untuk berperan. Melainkan, kita perlu mengakui dan memberi peran pada masing-masing sumber pengetahuan ini pada tempatnya, sesuai dengan kelebihan, keabsahan dan kompetensinya. Sikap mutually exclusive dan keinginan memonopoli dunia pengetahuan perlu dibuang jauh-jauh. Sebagai gantinya, sikap saling mempercayai, menghargai dan menghormati perlu ditumbuh-kembangkan. Berdasarkan sikap ini kemudia dilaksanakan dialog-dialog antara sumber-sumber pengetahuan yang ada. Sains yang empirik dan induktif berada di Barat, sementara filsafat rasional yang deduktif, dan agama, hidup di Timur. Dengan dialog seperti inilah kita bisa memasuki lembaran sejarah masa depan dengan penuh optimisme, semangat dan harapan.

Tidak ada komentar: